Cerita
Cerita |
- Opung dan Pemabuk
- Telur dan Tempe Gosong
- Tetangga Belakang
- Cinta Sejati Tetap Menari di Tengah Badai
| Posted: 19 Jun 2012 10:50 PM PDT Ucok dan temannya baru saja pulang dari lapo tuak dalam keadaan mabuk. Topik: |
| Posted: 19 Jun 2012 09:34 PM PDT Suatu malam, ibu yang bangun sejak pagi, bekerja keras sepanjang hari, membereskan rumah tanpa pembantu. Baru jam tujuh malam ibu selesai menghidangkan makan malam utk ayah. Makanan yang dihidangkan sangat sederhana, hanya berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambal teri dan nasi. Sayangnya karena mengurusi adik yang merengek, tempe dan telur gorengnya sedikit gosong. Saya melihat ibu sedikit panik, tapi tidak bisa berbuat banyak, minyak gorengnya sudah habis. Kami menunggu dengan tegang apa reaksi ayah yang pulang kerja pasti sudah capek, melihat makan malamnya hanya tempe dan telur gosong. Luar biasa! Ayah dengan tenang menikmati dan memakan semua yang disiapkan ibu dengan tersenyum, dan bahkan berkata, "Bu, terima kasih ya!". Selesai makan, masih di meja makan, saya mendengar ibu meminta maaf karena telur dan tempe yang gosong itu. Satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah apa yang ayah katakan: "Sayang, aku suka telur dan tempe yang gosong." Sebelum tidur, saya pergi utk memberikan ciuman selamat tidur kepada ayah. Saya bertanya apakah ayah benar-benar menyukai telur dan tempe gosong? Ayah memeluk saya erat dengan kedua lengannya dan berkata, "Anakku, ibu sudah bekerja keras sepanjang hari dan dia benar-benar sudah capek. Jadi sepotong telur dan tempe yang gosong tidak akan menyakiti siapa pun." Ini pelajaran yang saya praktekkan di tahun-tahun berikutnya: Belajar menerima kesalahan orang lain, adalah satu kunci yang sangat penting utk menciptakan sebuah hubungan yang sehat, bertumbuh dan abadi. Ingatlah emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang ada. Karena itu, selalulah berpikir dewasa. Mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi pasti punya alasannya sendiri. Janganlah kita menjadi orang yang egois hanya mau dimengerti, tapi tidak mau mengerti. Topik: |
| Posted: 19 Jun 2012 03:12 AM PDT Seorang pendeta sedang mengunjungi rumah seorang kakek tua yang tinggal di daerah terpencil. Topik: |
| Cinta Sejati Tetap Menari di Tengah Badai Posted: 19 Jun 2012 02:20 AM PDT Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang pria berusia 70-an datang utk membuka jahitan pd luka di ibu-jarinya. Aku menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi. Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya. Aku merasa kasihan. Jadi ketika sedang luang aku sempatkan utk memeriksa lukanya, dan nampaknya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, aku putuskan utk melakukannya sendiri. Sambil menangani lukanya, aku bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo utk makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer. Lalu kutanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat. Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir. Aku sangat terkejut dan berkata, "Bapak masih pergi ke sana setiap hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi?" Aku terus menahan air mata sampai kakek itu pergi, tanganku masih tetap merinding. Cinta kasih seperti itulah yang aku mau dalam hidupku? Cinta sesungguhnya tdk bersifat fisik atau romantis. Cinta sejati adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi. Bagiku pengalaman ini menyampaikan pesan penting: Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, mereka hanya berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki. Hidup bukanlah sekadar berjuang menghadapi badai, tapi bagaimana tetap menari di tengah badai. Topik: Cerita: |
| You are subscribed to email updates from Cerita To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar