Cerita

Cerita


Opung dan Pemabuk

Posted: 19 Jun 2012 10:50 PM PDT

Ucok dan temannya baru saja pulang dari lapo tuak dalam keadaan mabuk.
Saat berjalan pulang, si Ucok ingin buang air kecil, maka mereka pun mencari pohon besar untuk buang air.
Saat mendongak keatas dilihatnya sesuatu yang berbentuk bulat. Ucok bingung dengan yang dilihatnya, maka ia berkata kepada temannya, "Wah, kita kesiangan nih, matahari udah muncul".
Temannya yang masih setengah sadar langsung membatah, "Itu bulan Cok, bukan matahari".
Ucok gak terima dengan pernyataan temannya, "Ah kau.. Itu matahari, coba kau lihat lagi.."
Temannya pun lanjut membatah, "Coba lah kau buka mata lebar-lebar, itu bulan"
Mereka terus berdebat tentang matahari dan bulan. Kebetulan, lewatlah seorang kakek tua.
"Daripada kita terus berdebat, lebih baik kita tanya opung itu, yang diatas itu matahari atau bulan", kata teman Ucok.
Mereka berdua mendekati opung tadi. "Opung, yang diatas itu matahari atau bulan?", tanya si Ucok.
Dengan lugu, opung menjawab, "Mana opung tau, opung bukan orang sini cu...".

Topik: 

Telur dan Tempe Gosong

Posted: 19 Jun 2012 09:34 PM PDT

keluarga

Suatu malam, ibu yang bangun sejak pagi, bekerja keras sepanjang hari, membereskan rumah tanpa pembantu. Baru jam tujuh malam ibu selesai menghidangkan makan malam utk ayah. Makanan yang dihidangkan sangat sederhana, hanya berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambal teri dan nasi.

Sayangnya karena mengurusi adik yang merengek, tempe dan telur gorengnya sedikit gosong. Saya melihat ibu sedikit panik, tapi tidak bisa berbuat banyak, minyak gorengnya sudah habis.

Kami menunggu dengan tegang apa reaksi ayah yang pulang kerja pasti sudah capek, melihat makan malamnya hanya tempe dan telur gosong.

Luar biasa! Ayah dengan tenang menikmati dan memakan semua yang disiapkan ibu dengan tersenyum, dan bahkan berkata, "Bu, terima kasih ya!".
Lalu ayah terus menanyakan kegiatan saya dan adik di sekolah.

Selesai makan, masih di meja makan, saya mendengar ibu meminta maaf karena telur dan tempe yang gosong itu. Satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah apa yang ayah katakan: "Sayang, aku suka telur dan tempe yang gosong."

Sebelum tidur, saya pergi utk memberikan ciuman selamat tidur kepada ayah. Saya bertanya apakah ayah benar-benar menyukai telur dan tempe gosong?

Ayah memeluk saya erat dengan kedua lengannya dan berkata, "Anakku, ibu sudah bekerja keras sepanjang hari dan dia benar-benar sudah capek. Jadi sepotong telur dan tempe yang gosong tidak akan menyakiti siapa pun."

Ini pelajaran yang saya praktekkan di tahun-tahun berikutnya: Belajar menerima kesalahan orang lain, adalah satu kunci yang sangat penting utk menciptakan sebuah hubungan yang sehat, bertumbuh dan abadi.

Ingatlah emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang ada. Karena itu, selalulah berpikir dewasa. Mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi pasti punya alasannya sendiri. Janganlah kita menjadi orang yang egois hanya mau dimengerti, tapi tidak mau mengerti.

Topik: 

Tetangga Belakang

Posted: 19 Jun 2012 03:12 AM PDT

Seorang pendeta sedang mengunjungi rumah seorang kakek tua yang tinggal di daerah terpencil.
Saat akan pulang, si pendeta bertanya, "Pak, saya mau pamit pulang, apa ada sesuatu yang ingin didoakan?".
Kakek tersebut menjawab, "Ada pak, tolong doakan agar saya tidak ada masalah dengan tetangga belakang".
Pendeta pun mulai berdoa, "Tuhan, berilah bapak ini kesabaran dan hikmat agar dapat bersosialisasi dengan baik dengan tetangga belakang rumahnya. Amin".
Setelahnya, pak pendeta ijin untuk pulang.
Bapak tua pemilik rumah mengantarnya sampai ke halaman dan sambil menunjuk ke arah belakang, ia berkata, "Pak Pendeta, belakang rumah saya tidak ada rumah, yang ada cuma kuburan..!!!

Topik: 

Cinta Sejati Tetap Menari di Tengah Badai

Posted: 19 Jun 2012 02:20 AM PDT

cinta sejati

Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang pria berusia 70-an datang utk membuka jahitan pd luka di ibu-jarinya. Aku menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.

Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya. Aku merasa kasihan. Jadi ketika sedang luang aku sempatkan utk memeriksa lukanya, dan nampaknya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, aku putuskan utk melakukannya sendiri.

Sambil menangani lukanya, aku bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo utk makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari.

Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer. Lalu kutanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat. Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir.

Aku sangat terkejut dan berkata, "Bapak masih pergi ke sana setiap hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi?"
Dia tersenyum ketika tangannya menepuk tanganku sambil berkata, "Dia memang tidak mengenali saya, tapi saya masih mengenali dia, kan?"

Aku terus menahan air mata sampai kakek itu pergi, tanganku masih tetap merinding. Cinta kasih seperti itulah yang aku mau dalam hidupku?

Cinta sesungguhnya tdk bersifat fisik atau romantis. Cinta sejati adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi.

Bagiku pengalaman ini menyampaikan pesan penting: Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, mereka hanya berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki. Hidup bukanlah sekadar berjuang menghadapi badai, tapi bagaimana tetap menari di tengah badai.

Topik: 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar